Kategori
Uncategorized

4 Sebab Orang Membatasi Kebaikannya, Jangan Lekas Menghakimi, Ya!

4 Sebab Orang Membatasi Kebaikannya, Jangan Lekas Menghakimi, Ya!

Kita semua memang di perintahkan untuk banyak berbuat baik pada sesama. Namun, sangat di sayangkan bila kita lantas mudah menghakimi orang lain yang sepertinya gak lagi sering berbuat baik. Misalnya, dahulu menjadi donatur di mana-mana, sekarang gak.

Sebelum berbagai pikiran buruk menguasai, kita harus terlebih dahulu belajar menangkap berbagai kemungkinan yang melatarbelakangi keputusannya untuk membatasi kebaikannya. Di lansir dari doelgercenter.com, hal tersebut dapat terjadi mungkin saja karena dia mengalami lima kondisi di bawah ini.

1. Sudah kewalahan berusaha menolong orang sampai melebihi kemampuannya

Di kutip dari laman Agen Club38, saat kebaikan yang di lakukan seseorang tersebar, tentu ada konsekuensinya. Di satu sisi, namanya sendiri jadi terangkat. Ia akan di cap sebagai orang baik, memiliki kepedulian pada sesama.

Namun di sisi lain, ini juga akan mengundang banyak orang untuk meminta tolong padanya. Dan tentu saja, orang baik sebisa mungkin akan berusaha memenuhi semuanya. Akan tetapi saat kemampuannya gak sebanding dengan banyaknya permintaan tolong, ia pasti kewalahan.

Saat itulah, ia memilih untuk lebih realistis. Dia hanya akan menolong sesuai dengan kemampuannya. Sebab memaksakan diri malah bisa membahayakan dirinya sendiri atau mengorbankan kebutuhan keluarganya.

2. Kapok berhadapan dengan orang yang sudah di kasih hati malah minta jantung

Gak bisa di ingkari, bukankah memang ada orang yang tak tahu di untung? Bukannya berterima kasih dan merasa cukup dengan pertolongan yang di berikan orang lain, malah selalu merasa kurang.

Akibatnya, permintaannya dari waktu ke waktu makin aneh saja. Selain permintaannya bertambah banyak, caranya juga gak baik. Cenderung memaksa bahkan kadang di sertai ancaman kalau orang lain tak mau memenuhinya.

Maka gak perlu kita bersikap sinis kalau ada orang yang merasa kapok akibat pengalaman seperti ini, ya! Kita gak tahu seberapa buruk dampak bagi hidupnya. Terus terganggu ketenangannya saja sudah bikin stres banget, lho.

3. Lagi sibuk banget, penghasilan turun drastis, atau mengalami kondisi sulit lainnya

Kalau kesibukannya masih level standar sih, orang masih bisa membagi pikiran. Kalau gak bisa menyumbang tenaga, menyumbang uang tentu masih dapat di lakukan. Namun saat kesibukannya sudah sangat tinggi, kadang hari dan tanggal saja sampai lupa.

Jadi kalau gak ada yang mengingatkan, dia mungkin sekali lupa akan kebaikan yang sebenarnya rutin di lakukannya. Ini manusiawi banget kok. Apalagi jika dia sedang dalam kondisi sulit seperti sakit keras atau penghasilannya anjlok.

Memikirkan diri sendiri saja sudah kepayahan, apalagi memikirkan orang lain? Kondisi-kondisi seperti ini wajib untuk kita pahami bahkan meski dia tak mengatakannya secara langsung. Orang yang biasa menolong kadang juga butuh pertolongan, kan? Paling tidak perhatian.

4. Makin banyak orang yang mengambil peran

Dahulu, kebaikannya tampak sangat menonjol karena cuma dia yang turun tangan. Dia menjadi pelopor. Namun seiring dengan tergugahnya orang-orang di sekitarnya sehingga mereka ikut terlibat, dia mulai mengurangi perannya.

Ini di lakukannya untuk memberi kesempatan pada yang lain untuk berpartisipasi. Kan, yang ingin berbuat baik bukan cuma dia. Selain itu, dia jadi bisa mengalihkan bantuan atau perhatiannya pada hal-hal lain yang belum terjamah.