Kategori
Bisnis

Licin Kendalikan Bisnis dari Penjara

Gembong Narkoba yang Terkenal Licin Kendalikan Bisnis dari Penjara

Licin Kendalikan Bisnis dari Penjara – Sejumlah terpidana gembong narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) diduga kuat masih bisa mengendalikan bisnis ilegal meskipun mereka berada di balik jeruji penjara.

Pada 2019, Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia berhasil memetakan 98 jaringan sindikat narkotika, sebanyak 84 jaringan sindikat narkotika telah berhasil diungkap BNN.

Pengedaran narkoba dari dahulu hingga sekarang masih menjadi kasus yang tidak ada matinya. Meskipun, bandar dan para pengedar narkoba harus siap menerima hukuman mati.

Namun, kenyataannya ini tidak menjadi hambatan bagi bandar dan para pengedar narkotika dalam menjalankan aksi nekatnya.

Berikut taupier.net akan memberikan deretan nama gembong kasus narkotika yang divonis hukuman mati di Indonesia.

Ratu narkoba Meirika Franola, sempat diberi grasi oleh SBY, namun kembali divonis mati

Kasus pertama Meirika Franola atau yang dikenal sebagai Ola terjadi pada 2005 terkait penyelundupan 3,5 kg heroin dari Indonesia ke Inggris melalui Bandar Udara Soekarno-Hatta pada 12 Januari 2000.

Perempuan yang sempat dijuluki Ratu Narkoba ini nyaris lolos dari vonis mati, setelah Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu memberikan grasi kepadanya pada 26 September 2011 lalu, melalui kepres No 35 Tahun 2011 dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup.

Aksi penyelundupan narkotika terungkap saat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat ketika menangkap seorang kurir berinisial NA (40) di Bandara Husein Sastranegara, Bandung pada 4 Oktober 2012.

Dalam penangkapan itu, petugas BNNP Jawa Barat dan Bea dan Cukai mendapati 775 gram sabu di dalam tas NA. Ola diduga menjadi otak dalam penyelundupan sabu seberat 775 gram dari India tersebut. Ola pun kembali digeret ke PN Tangerang.

Namun, PN Tangerang memvonis nihil Ola pada 2 Maret 2015. Tidak terima dengan putusan majelis hakim, jaksa mengajukan banding. Vonis ini dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Banten pada 18 Juni 2015. Majelis banding tetap memvonis nihil Ola.

Tidak menyerah dengan putusan itu, jaksa lalu mengambil sikap hukum dengan mengajukan kasasi ke MA. Hingga akhirnya MA mengabulkan tuntutan jaksa.

Vonis mati terhadap Ola diketok pada 24 November 2015. “Mengabulkan kasasi jaksa, menjatuhkan hukuman mati,” kata juru bicara MA, hakim agung Suhadi.

Namun kabarnya hingga kini eksekusi mati terhadap Ola belum juga dilakukan.

Amir Aco, pengendali narkoba berkelas internasional dari balik penjara yang libatkan ibu kandungnya

Amir Aco dikenal sebagai pengedar narkoba yang licin dan kerap mengendalikan peredaran narkoba dari dalam LP Kelas I Makassar. Terpidana mati kasus narkoba ini menunggu waktu eksekusi matinya sambil mengendalikan peredaran narkoba di Sulawesi Selatan.

Kasus terakhirnya, ia ketahuan memesan ekstasi dari Belanda pada November 2017. Barang terlarang dari luar negeri itu dipesan oleh kaki tangannya, Andi Sandra Puspa Dewi. Paket berisi 989 butir ekstasi itu diantarkan oleh petugas Pos Indonesia dan diterima langsung oleh Andi. Bahkan, Polda Sulsel mengungkap keterlibatan ibu kandung Amir Aco, Supiati Daeng Kanang yang kala itu berusia 72 tahun dalam peredaran narkoba di Makassar.

Amir Aco memiliki catatan buruk untuk kasus narkotika. Ia pernah tiga kali divonis bersalah dengan total hukuman 32 tahun penjara. Di sidang terakhir, ia lolos dari tuntutan hukuman mati oleh kejaksaan.

Amir Aco melarikan diri dari lapas pada pertengahan November 2014 silam. Pelarian itu dilakukannya bersama rekan sesama sel isolasi bernama Rustam Efendi, napi dengan kasus serupa. Pelarian Amir Aco berakhir di tangan polisi di Makassar.

Polisi menangkap Amir Aco bersama seorang pria dan dua wanita di sebuah hotel di Makassar pada 17 Januari 2015, dini hari. Pengembangan dari penangkapan Amir Aco ditemukan 1,2 kilogram sabu beserta 4.188 butir ekstasi atau barang bukti senilai Rp 3,7 miliar, juga uang tunai Rp 8,6 juta. Dari kasus itu, Amir Aco divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Makassar.

Setelah divonis mati kasus narkoba, Amir Aco kembali ditangkap mengedarkan sabu di dalam Rumah Tahanan (Rutan) Klas 1 Makassar, pada 9 November 2015. Saat diinterogasi, dia mengaku barang itu dipesan oleh ‘Bos’ dari balik jeruji Nusakambangan.

Freddy Budiman, terpidana mati kasus narkoba yang kendalikan bisnis haram dari balik jeruji

Freddy Budiman dijatuhi vonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena telah mengimpor 1.412.476 butir ekstasi dari Tiongkok pada Mei 2012.

Gembong narkoba asal Jawa Timur ini pernah ditangkap pada 2009, karena memiliki 500 gram sabu-sabu. Saat itu Freddy divonis hukuman penjara 3 tahun dan 4 bulan lamanya.

Kemudian pada 2011, Freddy kedapatan memiliki ratusan gram sabu dan bahan pembuat ekstasi. Dia pun menjadi terpidana 18 tahun kasus narkoba di Sumatera dan menjalani masa tahanan di Lapas Cipinang.

Pada 2012, meski di dalam penjara, Freddy membuat heboh karena kedapatan mengimpor 1,4 juta butir ekstasi. Pil haram ini dikirim dari Tiongkok pada 28 April 2012 dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 8 Mei 2012.

Ekstasi dibungkus dalam paket teh Tiongkok sebanyak 12 kardus coklat. Bila paket itu lolos, dia diduga bisa meraup untung lebih dari Rp45 miliar.

Setelah kasus di LP Cipinang, pria kelahiran 1976 ini dipindahkan ke LP Gunung  Sindur, Bogor. Hingga akhirnya dipindahkan ke LP Nusakambangan yang menjadi LP terakhir dalam hidupnya.

Pada 29 Juli 2016, Freddy akhirnya meregang nyawa lewat peluru penembak dalam pelaksanaan eksekusi mati jilid III di  LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Selain kasus narkoba, Freddy Budiman juga bikin heboh karena kedekatannya dengan wanita-wanita cantik yang kerap menyambanginya ke penjara. Salah satunya model majalah dewasa Anggita Sari. Hubungan spesial Freddy dan Anggita sempat disorot media massa pada 2012 lalu.