Kategori
Bisnis

Edukasi Digital Jadi Cara Baru Belajar Bisnis Kopi

Pandemik COVID-19, Edukasi Digital Jadi Cara Baru Belajar Bisnis Kopi

Edukasi Digital Jadi Cara Baru Belajar Bisnis Kopi – Program Toffin E-Learning Center menyasar para entrepreneur startup, cafe dan restaurant owner, barista, bartender, tea & coffee specialist, F&B enthusiast, serta masyarakat yang ingin belajar bisnis kopi.

Edukasi digital kini jadi cara baru dalam belajar bisnis, salah satunya berbisnis kopi. Menurut Head of Marketing Toffin, Ario Fajar, saat ini seluruh industri food and beverage berubah sangat signifikan imbas pandemik COVID-19. Pemilik bisnis dituntut untuk melakukan strategi pemasaran, penjualan dan promosi yang kreatif.

“Sementara itu, para barista juga harus meningkatkan kompetensinya. Toffin E-Learning Center bisa menjadi kelas online yang tepat untuk menambah dan mengasah kemampuan,” ujarnya dalam twohearts-camping.com, Senin.

Toffin E-Learning Center ditargetkan untuk para entrepreneur start-up, cafe & restaurant owner, barista, bartender, tea & coffee specialist, F&B enthusiast, serta masyarakat umum yang ingin belajar mengenai bisnis kopi.

Beberapa fitur Toffin E-Learning Center

Toffin E-Learning Center juga menyediakan beberapa fitur. Antara lain Free Access Video, Paid Access Video, Paid Seminar Class, dan On Demand Video & Class.

“Para peserta hanya perlu mendaftarkan diri pada website Toffin E-Learning Center dan langsung bisa mendapatkan akses ke berbagai ratusan video dan workshop, di mana saja serta kapan saja. Untuk lebih lengkapnya bisa mengunjungi toffin.id/toffin-e-learning,” kata Ario.

Dunia Kopi Hingga Industri F&B

Toffin E-Learning Center membantu calon pengusaha yang ingin berbisnis kopi

Program pengembangan dan pelatihan di industri kopi. Mulai dari kreasi menu, pengembangan bisnis, hingga pelatihan keterampilan oleh mentor berpengalaman di bidangnya melalui daring baik video maupun workshop.

“Para mentor ini terdiri dari master kopi internasional, juara kopi Indonesia, ahli teh, pakar cafe dan restoran, konsultan hingga praktisi di industri kreatif,” jelasnya.

Platform Toffin E-Learning menawarkan tiga program. Pertama, skill untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di industri kopi atau bisnis food and beverage agar lebih kompetitif. Kedua, menu creation untuk menjadi referensi bagi business owner, barista, bartender, atau departemen pengembangan menu untuk mengkreasikan minuman yang inovatif dan kompetitif. Ketiga, program business untuk memperluas wawasan, pengetahuan, strategi, bisnis industri kopi.

Edukasi digital dinilai ramah lingkungan dan hemat waktu

Indonesia Barista Champion 2019 & 2020, Mikael Jasin menambahkan, edukasi berbasis digital ramah lingkungan dan menghemat waktu. Pelatihan bisnis yang dulu kerap dilakukan secara tatap muka, kini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

“Kita bisa membuat jadwal belajar mandiri. Setiap kontennya dipandu oleh para expertise di masing-masing bidang yang memiliki pengaruh dalam industri ini,” katanya.

Kategori
Bisnis

Indonesia Tempati Posisi 3 di Asia Tenggara

Digitalisasi Bisnis Maju, Indonesia Tempati Posisi 3 di Asia Tenggara

Indonesia Tempati Posisi 3 di Asia Tenggara – Bisnis di Indonesia menempati peringkat ketiga dalam pemanfaatan digitalisasi di antara negara-negara di Asia Tenggara, dan berada pada peringkat ketujuh di Asia-Pasifik. Hal ini terangkum dalam survei “DBS Digital Treasurer 2020”.

Bisnis di Indonesia tercatat telah maju dalam pemanfaatan digitalisasi. Survei geneannsyarns.com menyebutkan bahwa penggunaan digitalisasi dalam bisnis di Indonesia menempati peringkat ke-7 di antara negara-negara di Asia Pasifik, bahkan di posisi ke-3 di kawasan Asia Tenggara.

Riset ini berdasarkan jajak pendapat yang meneliti sekitar 1.700 corporate treasurers, CEO, CFO, dan pemilik bisnis se-Asia-Pasifik (APAC). Hasilnya, sekitar 26 persen perusahaan di Indonesia sudah memiliki strategi yang jelas dalam hal kesiapan digital.

Banyak tekanan dari luar untuk digitalisasi

Persaingan industri kian berkembang, ditandai dengan gangguan pada rantai pasokan serta COVID-19 yang mendorong laju digitalisasi pada hampir semua bisnis di kawasan. Di tengah iklim tersebut, sebesar 99 persen responden mengisyaratkan bahwa industri menghadapi tekanan dari luar untuk bertransformasi digital.

Dalam riset itu disebutkan, faktor utama yang mendorong kebutuhan bisnis untuk berubah digital ialah mencakup perubahan pola konsumsi pelanggan pasar utama, pesaing, dan kompleksitas rantai pasokan yang berkembang.

Arah digitalisasi ke depan

Penggunaan Application Programming Interface (API) dan solusi cloud perusahaan dalam bank connectivity semakin disukai di antara bisnis skala besar dan kecil di seluruh kawasan. API tetap menjadi cara paling populer untuk konektivitas bank.

Hampir setengah dari bisnis Asia Pasifik menggunakan API dalam kegiatan operasional mereka, dibandingkan solusi berbasis cloud. Akan tetapi, pergeseran ke solusi berbasis cloud ini diperkirakan akan terjadi dalam tiga tahun ke depan.

Perusahaan di Indonesia Sudah Memiliki Strategi yang Jelas

Di Asia Pasifik menempati posisi ke tujuh

Di kawasan Asia Tenggara, kesiapan digital bisnis-bisnis Indonesia hanya kalah dibandingkan dua negara, Singapura dengan 45 persen dan Thailand 32 persen. Sementara jika diperluas ke kawasan Asia Pasifik, masih ada Hongkong dengan 44 persen, Jepang sebesar 41 persen, Taiwan sebesar 39 persen, dan Korea Selatan sebesar 39 persen.

Group Head of Institutional Banking, DBS Bank, Tan Su Shan, mengatakan dampak teknologi terhadap bisnis belum pernah senyata saat ini.

Bank dipandang sebagai mitra digitalisasi paling disukai di Asia Pasifik

Bank tetap menjadi mitra yang paling strategis bagi bisnis di Asia Pasifik. Untuk tetap mengikuti inovasi fintech dan mengidentifikasi solusi tepat. Tujuh dari sepuluh bisnis menyatakan pilihan tersebut, sama seperti hasil survei tahun lalu sebesar 69 persen.

Di Vietnam sebanyak 90 persen menyatakan yang serupa, di Indonesia 84 persen. Thailand sebesar 82 persen, Malaysia sebear 80 persen, dan Korea Selatan sebesar 76 persen.

Di sisi lain, bank justru kurang diminati di AS karena bisnis lebih memilih terlibat dengan perusahaan fintech secara langsung. Kecenderungan itu juga secara umum terjadi di negara maju Asia Pasifik, seperti Singapura,Hongkong, dan Tiongkok.