Kategori
Bisnis

Pengusaha Tuntut Kepastian Vaksin dan Omnibus Law

Tidak Suka Kejutan, Pengusaha Tuntut Kepastian Vaksin dan Omnibus Law

Pengusaha Tuntut Kepastian Vaksin dan Omnibus Law – Pelaku usaha meminta kepastian skenario vaksin yang akan dijalankan pemerintah tahun depan. Hal itu menyusul kabar terbaru dari produsen vaksin dan lembaga terkait yang mana vaksinasi baru bisa dimulai pada akhir Januari 2021. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani mengatakan, pengusaha hanya membutuhkan dua hal sebagai Download APK IDNPlay Poker game changer perekonomian pada tahun ini.

Pertama, adalah kepastian vaksinasi COVID-19, dan kedua adalah Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law. “Karena dunia usaha tidak suka surprises,” katanya dalam webinar Economic Outlook 2021: Memacu Pertumbuhan di Tengah Pandemik yang digelar BeritaSatu, Selasa.

Pengusaha tuntut kepastian vaksinasi COVID-19 secara massal

Rosan meminta kepastian kepada pemerintah kapan akan dilakukan vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat secara luas. Menurutnya penundaan vaksinasi juga berimbas pada penundaan pemulihan dunia usaha.

“Apakah vaksin di semester I sehingga tekanan di semester II mulai membaik dan roda perekonomian baru berjalan. Pada Januari minggu 2-3 akan mulai disuntikan. Kapan heavy dan penyuntikan sebagian besar kapan dilakukan. Ini perlu skenario lain,” katanya.

Vaksinasi bisa bantu pertumbuhan ekonomi

Rosan mengatakan dengan adanya vaksinasi COVID-19 akan berdampak pada pemulihan belanja dan konsumsi domestik Indonesia. Terlebih, sektor konsumsi menyumbang sampai 57 persen terhadap perekonomian Indonesia.

“Dengan vaksinasi diharapkan orang akan mulai belanja, bepergian dan konsumsi meningkat,” katanya.

Omnibus law juga diperlukan pengusaha

Game changer kedua, menurut Rosan, adalah Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau omnibus law. Berdasarkan aturan yang ada, ia meminta pemerintah pada Februari 2021 sudah menyiapkan aturan turunan dari Omnibus Law, berupa peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (Perpres).

Dengan begitu, kata dia, akan muncul harapan kepercayaan, produktivitas yang meningkat dan terciptanya lapangan kerja.

“Ini (omnibus law) akan lebih berikan kepastian dunia usaha dalam dan luar negeri. Ini lebih banyak investasi dalam negeri dibanding di luar. Kesempatan ada. Apalagi dengan tension di Tiongkok. US, Jepang, Eropa sudah sampaikan ke perusahaan untuk keluar dari Tiongkok. Ini bisa di capitilized sehingga UU Cipta Kerja bisa jadi game changer kedua,” katanya.

Kategori
Society

Singapura Akan Beri Bonus bagi Warga

Singapura Akan Beri Bonus bagi Warga yang Mau Punya Anak Saat Pandemik

Singapura Akan Beri Bonus bagi Warga – Penerapan Social Distancing dan Physical Distancing membuat banyak orang lebih memilih berdiam di rumah. Akibatnya jumlah ibu hamil selama pandemi karena terlalu lama berdiam di rumah kini banyak terjadi. Pemerintah Singapura menawarkan insentif tambahan kepada pasangan yang ingin memiliki anak selama pandemik COVID-19.

Cara ini ditempuh oleh pemerintah karena tingkat kelahiran anak di Negeri Singa termasuk yang paling rendah di dunia. Stasiun berita doelgercenter.com, Selasa melaporkan, tingkat kelahiran itu makin rendah karena pasangan di Singapura menunda keinginan mereka memiliki anak. Sebab, mereka tengah berjuang menghadapi stres keuangan dan banyak yang kehilangan pekerjaan akibat pandemik COVID-19.

Bonus ini berbeda dari Download APK IDN Play insentif yang sudah diberikan oleh Pemerintah Singapura senilai SGD$10 ribu atau setara Rp108,4 juta kepada pasangan yang memiliki anak sebelum pandemik. Namun, Singapura belum menentukan nominal insentif yang akan diberikan kepada pasangan yang bersedia memiliki anak saat pandemik COVID-19. Hal itu akan diumumkan ke publik nanti.

“Kami telah menerima masukan bahwa COVID-19 telah menyebabkan beberapa pasangan yang semula ingin menjadi orang tua menunda rencana itu,” ungkap Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat pada Senin, lalu. Berapa tingkat kelahiran anak di Singapura?

Tingkat kelahiran di Filipina malah melonjak selama masa pandemik

Di Filipina, tingkat kelahiran anak yang tidak direncanakan diprediksi meningkat hingga 2,6 juta. Angka itu merupakan prediksi bila lockdown terus diberlakukan di Filipina hingga akhir 2020.

Presiden Rodrigo Duterte kembali memberlakukan lockdown terbatas di area ibu kota Manila untuk mencegah meluasnya pandemik COVID-19.

“Angka ini juga merupakan epidemik,” ungkap juru bicara Badan PBB untuk bidang populasi (UNPF), Aimee Santos, yang dikutip stasiun berita BBC.

Kini, jumlah populasi Filipina merupakan terbesar kedua di kawasan Asia Tenggara dengan angka 108,4 juta jiwa. Sementara di sisi lain, Filipina kini menjadi episentrum COVID-19 di kawasan Asia Tenggara, di mana 307 ribu lebih warga telah terpapar virus corona.

Sedangkan, dalam pandangan anggota senat Risa Hontiveros, isu pandemik COVID-19 menutupi isu penting lainnya seperti anak-anak dan perempuan. Padahal, mereka merupakan kelompok yang paling terdampak dari pandemik.

“Sudah saatnya menjadikan isu ini sebagai prioritas,” kata perempuan yang menjadi ketua komite di senat mengenai perempuan.

Tingkat kelahiran anak di Singapura sempat berada di level terendah pada 2018

Berdasarkan data Laporan Pencatatan Kelahiran dan Kematian Pemerintah Negeri Singa, tingkat kelahiran anak di Singapura sempat berada di level terendah pada 2018. Pada tahun ini hanya 39.039 kelahiran yang didaftarkan ke pemerintah. Angka tersebut mengalami penurunan 1,5 persen dibandingkan 2017.

lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=6081&loc=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com%2Fnews%2Fworld%2Fsanti dewi%2Fsingapura akan beri bonus bagi warga yang mau punya anak saat pandemik%3Fq%3Dwarga&referer=https%3A%2F%2Fwww.idntimes - Singapura Akan Beri Bonus bagi Warga

Harian Singapura, The Straits Times, 22 Juli 2019 lalu melaporkan pada 2018 angka kematian warga Negeri Singa justru meningkat 1,8 persen menjadi 21.282. Sebelumnya, di 2017, angka kematian warga Singapura mencapai 20.905.

Menurut sosiolog di Universitas Nasional Singapura, Tan Ern Ser, tren penurunan kelahiran akan terus terjadi di Negeri Singa. Hal ini mengkhawatirkan karena populasi harus terus diisi untuk memastikan tingkat perekonomian terus meningkat. Dengan begitu warga lansia bisa ikut merasakan dampaknya.

Asisten pengajar ilmu sosial di Universitas Singapura, Kang Soon-Hock mengatakan, rendahnya tingkat kelahiran bayi di Negeri Singa sudah terjadi jauh sebelum pandemik. Hal itu lantaran kaum muda Singapura lebih memilih berstatus single. Sementara, pasangan yang telah menikah menunda untuk memiliki bayi dan menjadi orang tua.

Situasi serupa juga ditemukan di Tiongkok. Angka kelahiran bayi di Negeri Tirai Bambu mencapai titik terendah sejak negara itu terbentuk 70 tahun lalu. Rendahnya tingkat kelahiran bayi tetap terjadi, meski pemerintah telah mencabut kebijakan warga hanya boleh memiliki satu anak.

Indonesia menghadapi kenyataan ada lebih dari 400 ribu kehamilan tak direncanakan selama pandemik

Situasi serupa juga terjadi di Indonesia. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 19 Mei 2020 menyebut, ada lebih dari 400 ribu kehamilan tidak direncanakan yang muncul selama pandemik COVID-19.

Menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, salah satu penyebab ledakan kehamilan terjadi karena sejumlah klinik kesehatan dan kandungan ditutup selama masa pandemik. Akhirnya masyarakat sulit mengakses alat kontrasepsi.

“Saya kira banyak orang yang tidak menggunakan alat kontrasepsi dalam keadaan ini, sebab banyak yang mematuhi peraturan pemerintah untuk tinggal di rumah kecuali dalam keadaan darurat, yang mengharuskan ke luar rumah,” kata Hasto.

Sehingga, diprediksi pada 2021, akan ada lebih dari 420 ribu bayi yang baru lahir. Padahal, Indonesia sudah tercatat menjadi negara dengan penduduk paling banyak di kawasan Asia Tenggara. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, pada 2020 jumlah penduduk di Indonesia akan meningkat menjadi 271 juta jiwa.

Kategori
Society

Warga Jerman Protes Pembatasan COVID-19 

Puluhan Ribu Warga Jerman Protes Pembatasan COVID-19

Warga Jerman Protes Pembatasan COVID-19 – Puluhan ribu demonstrasi berkumpul di pusat kota Berlin, Jerman pada Sabtu waktu setempat untuk menjaga sosial covid-19 yang diterapkan oleh pemerintah.

Setidaknya ada 20.000 warga Jerman melakukan protes karena pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah pada Sabtu, 7 November 2020. Protes tersebut terjadi di Leipzig, 190 kilometer arah selatan dari ibukota Berlin. Puluhan ribu warga yang melakukan protes itu, jauh melampaui jumlah yang diizinkan oleh otoritas keamanan setempat.

Jerman baru satu minggu menjalankan strategi penguncian ringan (lockdown light). Langkah tersebut diambil karena lonjakan infeksi virus yang terus terjadi di negara yang dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel. Penguncian ringan atau penguncian parsial dipilih karena Jerman tidak ingin melumpuhkan negara.

Dalam laporannya pada hari Sabtu, dalam 24 jam sedikitnya 23.000 warga Jerman Login IDN Poker Mobile terinfeksi virus corona. Melansir dari data yang dikumpulkan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), jumlah kematian akibat virus corona di Jerman telah mencapai 11.226 orang.

Bentrok dengan petugas keamanan dan wartawan

Awalnya, demonstrasi belum mencapai jumlah yang mencengangkan. Akan tetapi, lambat laun massa berkumpul dan menciptakan sebuah kelompok besar yang jumlahnya sekitar 16.000 dan terus bertambah sampai sekitar 20.000 orang. Beberapa orang yang berada dalam barisan demonstran, ada yang memakai masker dan tetap melakukan jaga jarak sosial. Tetapi banyak diantaranya yang mengabaikan aturan pemakaian masker dan aturan jarak sosial.

Associated Press melaporkan pemerintah kota memerintahkan acara demonstrasi harus selesai setelah dua jam. Akan tetapi hampir separuh dari peserta demonstrasi tetap bertahan dan tidak mau membubarkan diri. Mereka tetap berada di lokasi demonstrasi meskipun hari sudah mulai gelap. Pihak keamanan akhirnya turun tangan untuk membubarkan kerumanan demonstran.

Ketika pasukan keamanan bergerak untuk melakukan pembubaran terhadap para demonstran, terjadi bentrok diantara dua kelompok tersebut. Pihak keamanan mengabarkan bahwa “Ada banyak serangan terhadap petugas keamanan” dan beberapa dilakukan oleh kelompok sayap kanan. 32 serangan juga dilaporkan terjadi terhadap pawa wartawan. Sebagian besar yang melancarkan serangan itu adalah kelompok Querdenken.

Dari sekitar 20 ribu orang yang mengikuti aksi demonstrasi, Deutsche Welle mendapatkan informasi dari pihak polisi bahwa 90 persen dari massa tidak mengenakan masker atau mematuhi aturan jarak sosial yang telah diberlakukan untuk meminimalisir sebaran infeksi virus corona.

Pemerintah Jerman dianggap mengabaikan hak dasar warga negara

Lokomotif yang menyerukan untuk melakukan demonstrasi dan protes di Leipzig adalah Querdenken. Kelompok ini muncul pada momentum pembatasan yang dilakukan untuk mencegah persebaran infeksi virus corona pada bulan Juni 2020. Tak pernah diperkirakan, kelompok tersebut membesar di seluruh negeri dan menentang langkah-langkah pembatasan yang dilakukan pemerintah.

Laporan yang ditulis oleh Ben Knight dari kantor berita Deutsche Welle mengungkapkan bahwa kelompok Querdenken telah tersebar ke 50 kota di seluruh Jerman. Mereka mendukung hak-hak dasar yang diabadikan dalam Konstitusi Jerman, khususnya kebebasan berpendapat, berekspresi dan berkumpul.

Akan tetapi kelompok tersebut kemudian semakin agresif. Juru bicara Kementrian Dalam Negeri Berlin, Martin Pallgen, menjelaskan bahwa kelompok tersebut memiliki sikap yang semakin kuat, lebih agresif secara verbal dalam menyangkal keberadaan corona terhadap petugas polisi, kontra demonstran dan media”.

Mereka melakukan demonstrasi dan protes karena menganggap pemerintah Jerman telah merampas hak-hak dasar warga negara, dan mengubur kebebasan setiap orang dengan melakukan kebijakan-kebijakan penguncian, pelarangan serta pembatasan.

Penyangkalan keberadaan virus corona

Aturan baru yang diterapkan oleh pemerintah Jerman adalah bar, kafe, restoran tidak diizinkan melayani pelanggan makan di tempat mereka. Semua jenis pembelian harus dibungkus dan tidak diperbolehkan makan ditempat. Semua bioskop diperintahkan untuk tutup. Meski warga Jerman tidak dituntut untuk mengunci diri di dalam rumah, akan tetapi minimal pertemuan yang diizinkan adalah dua rumah tangga saja.

Dari beberapa demonstran yang hadir, ada yang menuntut Kanselir Jerman Angela Merkel untuk mundur dari jabatannya. Mereka meneriakkan kata-kata “perdamaian, kebebasan dan tidak ada kediktatoran”. Salah satu demonstran yang berusia 65 tahun mengatakan, “bagi saya tidak ada virus, mereka menyebut ini krisis virus corona sebagai motif, tetapi ada hal lain di balik ini semua”, katanya seperti dikutip dari Deutsche Welle.

Kelompok sayap kanan, penggemar ide-ide dan gagasan fasisme bahkan ikut turut membonceng dalam demonstrasi tersebut. Michael Bellweg, pendiri Querdenken telah mencoba menjauhkan kelompoknya dari gerombolan sayap kanan yang ikut dalam protes. Dari kelompok sayap kanan yang terlihat hadir dalam demonstrasi itu adalah kelompok neo Nazi NPD dan demonstran yang membawa bendera “Reich” Jerman, yang kalah pada saat Perang Dunia Pertama.

Kategori
Society

50 Pegawai dan Narapidana di Sumut Positif Covid-19

50 Pegawai dan Narapidana di Sumut Positif Covid-19

50 Pegawai dan Narapidana di Sumut Positif Covid-19 – Sebanyak 50 warga binaan dan pegawai di Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan (Rutan) di Sumut terkonfirmasi positif Covid-19.

Dilansir https://cjoutback.com Kepala Dividi Kemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkum HAM Sumut, Pujo Harinto mengatakan, satu pegawai di Lubuk Pakam, Deli Serdang terkonfirmasi positif Covid-19 dan masih dirawat.

Di Rutan Labuhan Deli ada satu orang dan dua warga binaan menjalani perawatan di Royal Prima Medan.

“Pegawai sudah diisolasi, dari informasi yang kita dapat dari Kepala Rutan bahwa sudah memasuki hari 14. Sampai hari ini kondisi mereka sehat dan tidak menunjukkan gejala,” katanya, Senin (26/10/2020).

Di Gunung Sitoli ada 9 orang positif Covid-19 dari hasil swab terhadap 97 orang. Sementara masih ada 100 orang lagi yang belum di tes swab.

“Mudah-mudahan ke depan tidak ada hasil positif. Tapi itu harapan kami dan akan dilanjutkan besok 100 orang tersebut,” ungkapnya.

Rutan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan pegawai yang terkonfirmasi positif Covid-19 ada 6 orang dan warga binaan 27 orang.

Untuk 27 orang warga binaan yang terkonfirmasi positif Covid-19, dilakukan isolasi di dalam Rutan. Hal itu bukan karena keterbatasan rumah sakit, namun lebih pada aspek keamanan.

“Sehingga akan lebih amat diisolasi di dalam Lapas dan gugus tugas membantu dalam perawatan baik itu memberikan makanan, asupan nutrisi tambahan dan membantu kesehatannya,” ungkapnya.

Tes swab massal dilakukan pada 3 Oktober 2020 terhadap satu lapas yang berisi 130 orang warga binaan. Hasilnya 27 orang warga binaan dan 6 pegawai terkonfirmasi positif Covid-19.

Lakukan Pencegahan

Sedangkan Lapas Klas IA Tanjung Gusta, kata Pujo, ditemukan satu empat kasus positif Covid-19. Sebanyak tiga orang merupakan pegawai dan satu orang warga binaan.

“Ada tiga orang pegawai (positif Covid-19) dan sudah memasuki hari terakhir untuk isolasi dan kondisinya sehat. Dan warga binaan ada satu yakni Tamin Sukardi dan meninggal dunia,” bebernya.

Terkait dengan adanya warga binaan yang terkonfirmasi positif Covid-19 baik di Medan, Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Labuhan Deli dan Lubuk Pakam, pihaknya mewajibkan setiap seminggu dua kali dilakukan penyemprotan cairan disinfektan.

“Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan sebab pegawai yang selalu bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain,” pungkasnya.

Kategori
Society

UPDATE – 72.050 Pasien Berhasil Sembuh dari COVID-19

UPDATE – 72.050 Pasien Berhasil Sembuh dari COVID-19

UPDATE – 72.050 Pasien Berhasil Sembuh dari COVID-19, – Satgas Penanganan COVID-19 merilis data perkembangan COVID-19 di Indonesia per Selasa.

Terjadi penambahan 1.813 kasus sembuh COVID-19 hari ini. Dengan demikian total kasus sembuh COVID-19 tembus 72.050.

Dengan demikian, jumlah kasus sembuh tersebut mencapai 62,6 persen dari kasus COVID-19 di Indonesia yang mencapai 115.056.

Sebanyak 5.388 orang di Indonesia meninggal karena COVID-19

Satgas COVID-19 juga melaporkan, jumlah pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia 5.388 kasus. Angka tersebut muncul karena ada penambahan kasus meninggal sebanyak 86 orang.

Angka tersebut adalah 4,6 persen dari total kasus COVID-19 di Indonesia.

Kasus positif COVID-19 di dunia mencapai 18,4 juta orang

Mengutip situs worldometers.info, hingga 4 Agustus 2020 pukul 15.53 WIB, secara global terdapat 18.463.904 orang terpapar virus corona. Kasus terbanyak masih berada di Amerika Serikat dengan 4.862.285 kasus.

Dari 18,4 juta kasus itu, 697.737 di antaranya meninggal dunia. Sementara pasien yang sembuh mencapai 11.691.464 orang.

Telah terbukti, COVID-19 menular melalui airborne

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio mengungkapkan penyebaran virus COVID-19 dapat melalui udara. Dan hal itu melalui bukan suatu temuan baru. Bahkan, Amin sudah mencurigai sejak awal kemunculan COVID-19.

“Jika ada droplet kemudian ada aliran udara yang cukup kuat (virus COVID-19) bisa terbawa angin dan terbang karena volumenya jadi lebih kecil, relatif ringan karena kadar airnya berkurang,” ujarnya, Selasa Juli 2020.

Amin menerangkan virus COVID-19 bisa keluar bersama droplet (cairan) yang dihasilkan ketika bersin atau batuk. Droplet yang menempel pada benda-benda yang tersentuh orang lain bisa menularkan virus-virus tersebut.

Namun, sebagian virus menyebar lewat udara (airborne) saat droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

“Sebagian besar memang menular melalui droplet, tapi dalam situasi tertentu bisa. Seperti di rumah sakit saat dilakukan prosedur pemasangan ventilator, pengisapan lendir, atau terapi nebulizer,” jelasnya.

Bahkan menurut Amin, sudah ada bukti dari pengamatan bahwa virus COVID-19 menular melalui airbone. Dia mencontohkan kasus di suatu restoran yang tertutup, misal pengunjung di meja yang bersin maka virus bisa saja satu ruangan kena.

“Ini juga bisa terjadi di ruang kerja, di perkantoran dengan AC split serta tertutup maka droplet bisa terembus udara dan hanya berputar satu ruangan,” imbuhnya.

Kategori
Bisnis Society

Eucalyptus Bisa Bunuh COVID-19

Eucalyptus Bisa Bunuh COVID-19

Eucalyptus Bisa Bunuh COVID-19 – Balai Penelitian Rempah dan Obat Kementerian Pertanian menguji minyak dari pohon Eucalyptus sebagai antivirus corona. Tahapan terkini dari uji itu sudah sampai molecular docking, mencocokkan ke virus, dan sudah pula diuji pada sel terinfeksi virus itu di laboratorium (in vitro).

“Hasil uji in vitro, 60 hingga 80 persen virusnya mati. Tapi memang virusnya bukan (penyebab) COVID-19, kami coba ke virus corona lain,” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementerian Pertanian, Evi Safitri ketika berbicara dalam webinar Rempah-rempah, Pengetahuan Medis, dan Praktik Kesehatan di Indonesia yang digelar Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Selasa.

Evi menerangkan, penambatan molekul atau molecular docking adalah metode komputasi bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in vitro.

Ia mengatakan, Balitro mencoba meneliti sejumlah tanaman rempah dan obat untuk dapat digunakan mengatasi Covid-19. Beberapa di antaranya jahe merah, kunyit, temulawak, kayumanis, cengkeh, kulit jeruk, jambu biji, meniran, sambiloto, seraiwangi, eukaliptus, kayuputih, minyak kelapa murni atau VCO.

Sebenarnya, menurut Evi, ada banyak jenis tanaman yang memiliki potensi untuk pengobatan. Terlebih Indonesia berada diperingkat tiga negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Namun, baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah diteliti atau dimanfaatkan untuk pengobatan. “Itu pun kebanyakan baru sampai level jamu.”

Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memproduksi massal produk kalung antivirus Corona dari bahan eucalyptus atau kayu putih. Disebutkan bahwa tanaman eucalyptus bisa bunuh virus Corona, terbukti dari uji laboratorium Kementan.

Selain kalung, Kementan juga berencana untuk membuat produk inovasi antivirus Corona dengan bentuk inhaler, roll on, salep, dan difuser.

Berbicara mengenai hal tersebut, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, mengatakan bahwa eucalyptus memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan antijamur. Namun belum ada penelitian spesifik mengenai manfaatnya untuk COVID-19.

“Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2,” tutur dr Inggrid kepada detikcom, Sabtu (4/7/2020).

Maksudnya adalah hasil uji yang melaporkan kandungan antivirus dalam minyak atsiri yang disebut 1,8-cineol masih terbatas pada virus Corona secara umum saja, tidak spesifik pada jenis virus yang menjadi penyebab COVID-19 yakni SARS-CoV-2.

Dijelaskan juga oleh dr Inggrid, klaim antivirus COVID-19 baru bisa diperoleh jika sudah ada hasil spesifik terhadap strain SARS-CoV-2 sebab tak cukup hanya dengan uji virus Corona secara umum.

“Mohon berhati-hati, karena klaim sebagai “antivirus Corona” bisa misleading. Karena ternyata banyak pemahaman masyarakat yang salah, menduga bahwa antara ‘virus Corona’ dengan ‘virusnya COVID-19’ adalah sama atau identik padahal cukup beda karakteristiknya,” jelasnya.

Penggunaan eucalyptus atau minyak atsiri memang sering digunakan untuk mengatasi keluhan terkait saluran pernapasan. Kandungan 1,8-cineol pada eucalyptus memiliki sifat anti-inflamasi yang secara teori mungkin bermanfaat bagi pasien COVID-19.

Namun, penggunaannya sebagai ‘antivirus’ COVID-19 perlu dilakukan uji klinis terlebih dahulu.

“Jika ingin uji kliniknya segera dalam waktu cepat, bisa diarahkan untuk pembuktian efikasi dalam hal perbaikan gejala pernafasan pada pasien COVID-19,” pungkas dr Inggrid.