Kategori
Society

Falsafah Hidup Masyarakat Sulawesi Selatan

Mengenal Budaya Siri, Falsafah Hidup Masyarakat Sulawesi Selatan

Falsafah Hidup Masyarakat Sulawesi Selatan – Orang Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar) memiliki falsafah hidup yang tinggi dari segi kebudayaan yang dapat mendorong terbangunnya peradaban yang maju dan berkarakter. Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke sehingga memiliki beragam budaya.

Di antaranya budaya di Sulawesi Selatan. Dalam masyarakat Sulawesi, ada budaya yang bernama siri’. Budaya ini merupakan falsafah hidup masyarakat Sulawesi yang didasari pentingnya rasa malu.

Siri’ji nanimmantang attalasa’ri linoa, punna tenamo siri’nu matemako kaniakkangngami angga’na olok-oloka.

Artinya, hanya karena rasa malu kita bisa hidup di dunia ini. Jika rasa malu itu sudah hilang, maka lebih baik mati karena engkau tak berarti lagi sama sekali bahkan binatang lebih berharga dibanding dirimu.
Falsafah inilah yang dipegang teguh oleh masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya etnis Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Seperti register poker dikutip dari Majalah Integrito, dalam masyarakat Sulawesi Selatan terdapat kategori budaya siri’ yaitu sebagai berikut.

Siri’ Mappakasiri’siri’

Siri‘ ini berhubungan dengan etos kerja. Bekerja keras, rajin, dan giat harus dimiliki oleh setiap laki-laki di Sulawesi Selatan agar menaikkan harkat dan martabat keluarga. Dan jangan meminta-minta karena akan sangat memalukan.

Maka masyarakat Sulawesi Selatan banyak yang merantau atau menjadi pelaut, hal ini gambaran mereka adalah pekerja keras.

Siri’ Mate Siri’

Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu atau mati rasa malunya maka disebut juga tidak beriman. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, jika seseorang sudah mati rasa malunya bagaikan bangkai hidup. Maka rasa malu harus selalu dijaga dan tidak melakukan perbuatan yang tercela.

Siri’ Ripakasiri

Masyarakat Sulawesi Selatan sangat menjunjung tinggi harga diri atau harkat dan martabat keluarga. Siri‘ inilah yang disebut dengan siri’ ripakasiri. Jika siri‘ ini dilanggar maka taruhannya adalah nyawa.

Sehingga masyarakat Sulawesi Selatan berani membela kebenaran. Tak jarang terjadi pertumpahan darah untuk menegakkan siri’ tersebut.

Siri’ Tappela’ siri’

Makna dari siri‘ ini adalah rasa malu yang terusik karena suatu hal atau siri‘ yang disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Misalnya dalam hal berjanji tetapi orang tersebut tidak dapat menempati janjinya.

Maka orang tersebut mempermalukan dirinya sendiri. Dapat juga diartikan setiap perbuatan dan perkataan harus sesuai.

Siri’ Na Pecce

Siri’ Na Pecce adalah pelengkap dari keempat kategori siri di atas. Budaya Siri’ Na Pecce merupakan falsafah budaya dalam masyarakat Bugis-Makassar yang harus dijunjung tinggi.

Apabila budaya siri’ Na Pecce tidak terdapat dalam diri, maka orang tersebut disamakan dengan binatang karena tidak memiliki rasa malu, harga diri, dan kepedulian sosial.

Budaya siri’ yang telah mengakar dalam falsafah kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan perlu dipertahankan. Rasa malu harus menyangkut segala sendi kehidupan. Seperti malu melakukan kejahatan, penipuan, korupsi, dan lain-lain.

Semoga budaya siri’ tidak saja ada dalam masyarakat Sulawesi Selatan tetapi ada di setiap dada bangsa Indonesia.
Kategori
Society

Falsafah Hidup Masyarakat Lampung yang Masih Utuh

Keren! Ini Dia, Falsafah Hidup Masyarakat Lampung yang Masih Utuh

Falsafah Hidup Masyarakat Lampung yang Masih Utuh – Dari segi falsafah hidup pada hakekatnya masyarakat Lampung secara umum memiliki pandangan hidup yang disebut dengan fiil pesenggiri. Piil Pesenggiri adalah tatanan moral yang merupakan jiwa dan berperilaku masyarakat adat Lampung dalam segala aktivitas.

Sebagaimana adat-istiadat di setiap daerah di indonesia yang punya falsafah hidup, orang Lampung juga memilikinya lho. Falsafah hidup tersebut menjadi salah satu Agen IDN Poker Indonesia pegangan orang Lampung dalam menjalani kehidupan.

Falsafah hidup orang Lampung ini termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu kitab adat istiadat orang Lampung yang sampai sekarang masih bisa ditemukan dan dibaca, baik dalam aksara asli maupun yang sudah ditulis dalam aksara latin. Dan menariknya falsafah-falsafah tersebut dilambangkan dengan ” lima kembang penghias siger” pada lambang Provinsi Lampung.

Berikut falsafah hidup masyarakat lampung yang patut dicontoh.

Nemui nyimah

Secara bahasa, dalam bahasa Lampung, nemui berasal dari kata temui yang berarti tamu, sedangkan nemui sendiri diartikan sebagai menerima tamu, menerima kunjungan, menjalin silaturahmi, saling bertemu, dan menyambut dengan penuh suka cita. Kemudian nyimah berasal dari kata dasar simah, yaitu murah hati, sopan santun, tidak pelit, murah senyum dan ramah pada siapapun. Kata awalan nyi (miah) dalam nyimah maksudnya adalah perilaku.

Maka, nemui nyimah diartikan sebagai perilaku yang sopan santun, bermurah hati, serta ramah tamah terhadap semua pihak yang datang. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, nemui nyimah diterjemahkan sebagai suatu sikap yang memiliki nilai religius serta sosial terhadap suatu lingkungan. Oleh orang Lampung dijadikan sebagai titie gumantie atau tatacara ketentuan pokok yang selalu diikuti dan diwariskan secara turun-temurun.

Nengah nyappur

Nengah nyappur merupakan prinsip yang mengajarkan manusia untuk dapat berbaur dengan sesama. Manusia yang pandai bergaul dengan sesama berarti juga memiliki rasa toleransi yang tinggi. Nengah nyappur juga mengajarkan ulun Lampung untuk selalu bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah.

Secara bahasa nengah berasal dari kata benda, kemudian berubah menjadi kata kerja yang berarti berada di tengah. Sedangkan nyappur berasal dari kata benda cappur menjadi kata kerja nyappur yang berarti baur atau berbaur. Secara harfiah dapat diartikan sebagai sikap suka bergaul, suka bersahabat dan toleran antar sesama.

Nengah nyappur menggambarkan bahwa anggota masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung dengan sikap suka bergaul dan bersahabat, menumbuhkan semangat suka bekerja sama dan tenggang rasa yang tinggi antar seamanya.

Sikap toleransi akan menumbuhkan sikap ingin tahu, mau mendengarkan nasehat orang lain, memacu semangat kreativitas dan tanggap terhadap perkembangan gejala-gejala sosial.

Pi’il pesenggiri

Pi’il pesengiri adalah warisan budaya masyarakat lampung, yang merupakan falsafah hidup ulun lampung. Istilah pi’il pesenggiri kemungkinan berasal dari “pi’il” dalam bahasa arab yang berarti perbuatan atau perangai dan kata “pesenggiri” yaitu pahlawan perlawanan rakyat bali utara terhadap serangan pasukan majapahit.

Dengan demikian pi’il pesenggiri berarti perangai yang tidak keras, tidak mau mundur terhadap tindakan kekerasan yang lebih-lebih menyangkut nama baik keturunan atau kehormaan pribadi dan kerabat.

Filsafat hidup pi’il pesenggiri secara esensial identik dengan perbuatan manusia yang luhur dalam makna dan nilainya. Selain itu, filsafat pi’il pesenggiri juga dimaknai sebagai sesuatu yang menyangkut harkat dan martabat kemanusiaan, harga diri, dan sikap hidup, baik secara individual maupun sosial.

Lebih lanjut prinsip-prinsip dasar yang disebut pi’il pesenggiri adalah prinsip-prinsip yang ingin hidup sejajar dalam berdampingan dengan siapa pun. Kesejajaran tersebut dalam arti orang Lampung tidak ingin hidup diatas jika yang lainya ada dibawah dan sebaliknya tidak senang hidup di bawah jika yang lainya ada diatas.

Oleh karena itu, secara filosofis filsafat hidup pi’il pesenggiri adalah identitas atau jati diri masyarakat Lampung dan harus menjiwai segala aspek, kreativitas dan aktivitas kehidupan manusia atau masyarakat Lampung.

Sakai sembayan

Sakai sembayan bermakna memberikan sesuatu kepada seseorang atau sekelompok orang dalam bentuk benda dan jasa yang bernilai ekonomis. Yang dalam praktiknya cenderung menghendaki saling berbalas. Sedangkan sambaian bermakna memberikan sesuatu kepada seseorang sekelompok orang atau untuk kepentingan umum secara sosial berbentuk benda dan jasa tanpa mengharapkan balasan.

Sedangkan dalam bahasa Lampung, Sakai sembayan diartikan sebagai gotong-royong, tolong-menolong, bahu-membahu, dan saling memberi terhadap sesuatu yang diperlukan oleh orang lain.

Konsep saling memberi dan diberi, berdasarkan dari apa yang telah dilakukan atau diberikan sehingga tercipta saling mengisi dan saling mengerti antar sesama. Masyarakat lampung akan merasa kurang terpandang bila ia tidak mampu berpartisipasi dalam suatu kegiatan kemasyarakatan.

Perilaku ini menggambarkan sikap toleransi kebersamaan, sehingga seseorang akan memberikan apa saja secara suka rela. Apabila pemberian itu memiliki nilai manfaat bagi orang atau anggota masyarakat yang membutuhkan.

Bejuluk beadek

Bejuluk beadek berasal dari kata juluk yang berarti nama baru ketika seseorang mampu menancapkan cita-citanya. Sedangkan adek adalah gelar atau nama baru yang diberikan ketika cita-cita itu telah tercapai.

Juluk beadek menjadi hak seluruh masyarakat Lampung. Maka dari itulah juluk beadek ini menjadi identitas utama yang melekat pada pribadi setiap masyarakat Lampung. Juluk beadek biasanya mengikuti tatanan yang telah ada berdasarkan hierarki status masing-masing struktur kepemimpinan adat.

Karena, juluk beadek ini merupakan sesuatu yang otomatis didapatkan oleh seseorang. Apabila orang tersebut telah mencapai hasil kerja yang maksimal. Atau menempuh langkah kehidupan yang baru.

Keren ya! boleh dicontoh tuh, falsafah hidup masyarakat Lampung yang masih diwariskan hingga sekarang. Kalau di daerahmu, apa nih falsafah hidupnya?