Kategori
Bisnis

Perjuangan Murdani Membangun Bisnis Terasi Tanpa Bantuan Pemerintah

Perjuangan Murdani Membangun Bisnis Terasi Tanpa Bantuan Pemerintah

Perjuangan Murdani Membangun Bisnis Terasi Tanpa Bantuan Pemerintah – Terasi atau belacan adalah bumbu masak yang di buat dari ikan dan/atau udang rebon yang di fermentasikan, berbentuk seperti adonan atau pasta dan berwarna hitam-coklat, kadang di tambah dengan bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan. Terasi merupakan bumbu masak yang penting di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan. Terasi memiliki bau yang tajam. Di Indonesia terasi biasanya di gunakan untuk membuat sambal terasi, tetapi terasi juga di gunakan sebagai penyedap masakan dalam berbagai resep tradisional Indonesia

Tangan Murdani tampak sibuk bergelut dengan selembar plastik berukuran seperempat kilogram. Sesekali badannya merunduk dan tangan kanannya meraih centong nasi plastik dari dalam karung putih. Bukan beras yang telah di tanak diangkat serta di keluarkan menggunakan sendok dari karung oleh pria berambut cepak tersebut, namun adonan hitam kecoklatan beraroma udang lembab. Pasta itu pun lalu di masukkan ke dalam plastik bening.

Usai di pastikan padat, kemasan tersebut langsung di kunci erat dengan stapler dan di gabungkan dengan kemasan lainnya yang serupa. Pria itu kembali menyibukkan dirinya dengan poker deposit pulsa 10000 adonan amis namun memiliki cita rasa yang luar biasa tersebut. Ia harus menyelesaikan pesanan yang masih kurang, sebab harus mengirimkannya dalam waktu dekat.

1. Tak hanya di Langsa, Terasi milik Murdani juga dikirim ke Pulau Jawa

Terasi milik Murdani ternyata tak hanya di nikmati warga Kota Langsa atau pembeli yang singgah di tempat ia berjualan saja. Bumbu makanan berbahan dasar udang kering yang diolah pria berbadan gempal ini rupanya juga sampai ke luar kota, seperti Kota Banda Aceh, Sabang, Medan, bahkan hingga ke Pulau Jawa.

Meski pengirimannya tidak setiap hari di lakukan, namun sedikitnya sekitar 40-50 kilogram terasi di kirim dalam sekali permintaan.

2. Usaha milik sang ayah yang ditekuni sejak masih duduk di bangku sekolah

Ada begitu banyak pembuat sekaligus pedagang terasi terlihat jika melintas di kawasan Simpang Lhee, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Aceh. Murdani adalah salah satunya.

‘UD Terasi Asli Awak Awai’ yang saat ini di kelola sendiri oleh pria berusia 33 tahun tersebut merupakan warisan dari sang ayah. Ayahnya adalah seorang nelayan yang ketika hidup sering menyisakan sedikit waktunya untuk membuat terasi.

Murdani sendiri baru mulai menyelami bisnis pembuatan bumbu yang identik di campur dengan sambal ini ketika duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Nama ‘Awak Awai’ pada usahanya di dedikasikan Murdani untuk sang ayah yang telah mengajarkannya. Ayahnya sendiri semasa hidup di kenal para sejawat sebagai awak awai.

3. Di produksi manual, maksimal produksi hanya 60 kilogram

Cara memproduksi terasi milik Murdani terbilang tradisional. Ia hanya membeli udang sesuai keperluan lalu menjemurnya hingga kering. Waktu yang di butuhkan untuk pengeringan ini hanya di sesuaikan dengan kondisi cuaca di kawasan tempat ia tinggal.

Usai di pastikan benar-benar kering, udah kemudian di tumbuk dengan menggunakan lesung sampai benar-benar halus. Setelah itu, baru di simpan ke dalam karung plastik sebelum akhirnya di kemas ke dalam kemasan.

Sekali produksi biasa Murdani bisa menghasilkan 60 kilogram terasi, akan tetapi ia juga pernah memproduksi hingga mencapai 150 kilogram.

Sayangnya sewaktu usaha milik Murdani, ia sedang tidak menjemur maupun menumbuk udang. Selain hanya tinggal mengemasi terasi yang telah di pesan dan akan di kirim.

4. Pandemik berpengaruh besar terhadap penjualan terasi

Harga terasi yang di jual Murdani bervariasi, bergantung dengan ukuran. Satu kilogramnya pria kelahiran Kota Langsa ini mematok harga Rp40 ribu, sementara untuk setengah kilo hanya Rp20 ribu dan ukuran seperempat dijual Rp10 ribu.

Biasanya dengan harga segitu, omzet penjualan yang di dapat mencapai Rp2 juta per hari. Omzet tersebut belum termasuk dengan terasi yang dikirim ke luar daerah. Pendapatnya itu pun naik drastis ketika hari besar perayaan.

Pandemik COVID-19 yang melanda Indonesia termasuk Aceh, juga berpengaruh terhadap penjualan terasi milik Murdani. Penghasilannya tidak menentu, bahkan terbilang jauh dari penjualan harian sebelum virus tersebut mewabah.

5. Akui tak pernah mendapat sentuhan dari pemerintah

Ketika ditanya mengenai adanya bantuan dari pemerintah, ia menimpal bahwa sejak usaha mikro trasi pertama kali di turunkan sang ayah kepada dirinya, belum ada sekalipun bantuan di terima.

Mirisnya lagi, ada beberapa oknum yang mengaku dari pegawai pemerintahan datang berkunjung. Kunjungan mereka di katakan pria berusia 33 tahun tersebut ternyata hanya untuk mendata dan mengambil dokumentasi foto tanpa ada tindak lanjut.

Murdani tak ingin banyak menabur harapan ke orang lain untuk usaha terasi miliknya, termasuk kepada pihak Pemerintahan Kota Langsa. Jika sewaktu-waktu ada di berikan bantuan, ia tak akan menolak. Begitu juga sebaliknya, jika tidak di berikan maka ia pun tak mau meminta-mintanya.

Meski rasa terasinya belum begitu membumi di lidah warga seantero Aceh, tetapi ia tetap bersyukur masih bisa membantu kehidupan keluarga besarnya dan terus mengasapi dapur rumah mereka.