Categories
Bisnis

Desainer di Balik Desain APD

Desainer di Balik Desain APD

Desainer di Balik Desain APD – Alat pelindung diri (APD) seperti jaket besar dan masker modis yang viral di masa pandemi virus corona (Covid-19), ternyata tak muncul begitu saja. Ada kisah menarik yang tak jarang berangkat dari kerugian dan keterpurukan sebelum berhasil membuat APD dan masker yang stylish.

Sejumlah desainer mengaku ide kreatif itu muncul saat pandemi sempat membuat industri mode mati suri. Mereka mesti putar otak untuk tetap dapat meraih pundi-pundi.

Saat awal pandemi di Indonesia, pemerintah menetapkan kebijakan bekerja dan beraktivitas dari rumah, termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah.

Kebijakan ini membuat produksi busana terhenti. Di sisi lain, permintaan pasar pun terus menurun drastis. Desainer busana modest Rosie Rahmadi mengaku panik saat pandemi datang pada Maret lalu.

Berawal dari ketidaksengajaan, kini Rosie banyak mendapat orderan OPD itu bahkan dari sejumlah perkantoran dan rumah sakit. Kesulitan di masa pandemi juga dirasakan label kain sarung kontemporer Aceh, Ija Kroeng.

“Di minggu pertama saat Aceh mulai memberlakukan jam malam dan semuanya dibatasi, penjualan hampir nol, 99 persen tak ada penjualan,” kata founder Ija Kroeng, Khairul Fajri.

Penambahan Follower

Penjualan yang menurun membuat Khairul kembali melihat pasar. Dia memutuskan untuk sementara waktu beralih membuat masker kain yang saat itu masih sulit didapat. Khairul kembali mempekerjakan pegawainya dan membuat masker kain dengan motif unik. Dia juga membuat pola masker yang sederhana tapi tetap gaya.

“Strategi yang lain kami langsung membidik instansi perusahaan, kami buat masker dengan logo mereka,” ujar Khairul.

Strategi ini terbilang ampuh sejumlah instansi memesan masker itu dalam jumlah besar. Cara ini juga secara tidak langsung mengenalkan label Ija Kroeng ke lebih banyak konsumen. Perlahan penjualan kain sarung pun mulai membaik.

“Tahun ini, lebih bagus dibanding tahun lalu, penambahan follower juga lebih banyak,” ucap Khairul.

“Awal pandemi ini menerpa, saya panik, takut, bingung mau ngapain,” kata Rosie.

Rosie terpaksa membatasi produksi dan juga para pekerja. Sebagian pekerja mesti datang ke tempat kerja (workshop) sebagian lain dari rumah.  Rosie juga mengurangi intensitasnya memantau workshop menjadi dua atau tiga kali sepekan.

Namun, keadaan tak juga membaik. Alhasil, Rosie mesti berpikir keras agar labelnya tetap dikenal banyak orang. Pada suatu hari. Setelah berkonsultasi dengan desainer yang lebih senior dan berpengalaman. Rosie memutuskan untuk membuat video menceritakan tentang labelnya.

Dalam video itu, tak sengaja Rosie bercerita tentang salah satu jaket koleksi miliknya yang selalu dikenakan sejak empat tahun lalu. Jaket itu selalu dikenakan untuk perlindungan diri selama masa pandemi ketika mesti bekerja di luar rumah.

“Saya ternyata selalu pakai jaket yang sama dari tahun 2016. Jaket ini anti air dan tidak gampang masuk angin,” ucap Rosie.