Kategori
Society

Bambu Gila, Tradisi Masyarakat Tanah Maluku Yang Unik Dan Mistis

Bambu Gila, Tradisi Masyarakat Tanah Maluku Yang Unik Dan Mistis

bambu gila tarian magic dari ambon esmwg45M5f - Bambu Gila, Tradisi Masyarakat Tanah Maluku Yang Unik Dan Mistis

Bambu Gila, Tradisi Masyarakat Tanah Maluku Yang Unik Dan Mistis – Masing-masing daerah pasti memiliki kesenian dan tradisi yang berbeda-beda. Semua tradisi turun temurun dari nenek moyang ini juga menyimpan sejuta makna. Seperti membahas tradisi masyarakat Maluku. Bambu Gila, Jika dilihat dari namanya terdengar sedikit aneh, namun Register 918Kiss ini sudah menjadi tradisi unik masyarakat Maluku dan sangat menarik dengan nuansa mistis. 

Nama asli dari tradisi bambu gila ini adalah Baramasewel, tradisi terdiri dari permainan ini sudah ada sebelum agama Islam dan Kristen di tanah Maluku. Melansir dari Warisan Budaya Kemdikbud.go.id, Kisahnya tentang hutan bambu yang terletak di kaki Gunung Berapi Gamalama, Ternate, Maluku Utara.

Tradisi yang mengandung kabut ini dapat ditemui di dua desa, yaitu Desa Liang, Kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Sementara, di Provinsi Maluku Utara, bantuan yang bernuansa mistis ini bisa dijumpai di beberapa daerah di Kota Ternate dan sekitarnya.

Dilihat dari namanya, permainan ini menggunakan bambu. Namun bambu yang dipilih dalam permainan ini tidak sembarangan. Bambu diambil dari hutan dengan melalui ritual khusus. Bambu yang dipilih biasanya bambu berdiameter 8-10 cm, dan dengan panjang mencapai 3 meter.

Bambu yang sudah dipilih dibuka dan dibuka dengan minyak kelapa, lalu dibuka kain pada setiap ujungnya dan disetujui layaknya manusia. Bambu kemudian dipotong menjadi tujuh ruas, dan setiap bagian akan dipegang oleh seorang pemain.

Permainan bambu gila ini dimainkan oleh tujuh orang, atau biasanya tergantung dengan panjang bambu yang digunakan. Potongan bambu tersebut kemudian ditempatkan di dada masing-masing pemain. Peralatan lain yang dibutuhkan untuk kesenian ini adalah kemenyan dan jahe. Sebelum permainan bambu gila dimulai, pawang akan melepaskan kemenyan terlebih dahulu.

Kemenyan tersebut ditaruh di dalam tempurung kelapa. Kemudian pawang membacakan mantra dalam “bahasa tanah” yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Asap kemenyan kemudian akan diembuskan pada batang bambu yang akan digunakan.

Jika menggunakan jahe, pawang akan mengunyah jahe tersebut sambil membaca mantra. Kemudian jahe tersebut disemburkan ke bambu. Kemenyan atau jahe ini sesuai kepercayaan masyarakat sekitar yang bisa roh roh leluhur, yang bisa memberikan kekuatan mistis dalam bambu tersebut.

Proses ini menjadi penting dalam permainan bambu tradisional, roh-roh ini akan membuat batang bambu bergerak sendiri. Seakan-akan membuat batang bambu menggila dan semakin sulit dipercepat.

Atraksi bambu gila dimulai ketika menyanyikan berteriak pawang “ gila, gila, gila !”. Para pemain harus memeluk dan memegangi bambu dengan pawang. Mereka mengeluarkan tenaga untuk menggerakkan kekuatan guncangan bambu.

Permainan ini diiringi dengan alunan musik khas Maluku, seperti tifa, genderang, hingga gong. Ketika irama musik mulai dipercepat, bambu semakin berat dan menari dengan kekuatan yang ada di dalamnya.

Sepanjang permainan, sang pawang terus mengendalikan bambu dengan meneriakan mantra-mantra. Konon bambu ini tidak akan berhenti bergerak sampai sang pawang dipindahkannya untuk berhenti.

Kekuatan mistis bambu gila juga tidak akan hilang begitu saja sebelum diberi makan api melalui kertas yang dibakar oleh sang pawang. Tradisi bambu gila ini masih sangat kental aura mistisnya. Orang yang memainkan bambu gila ini juga tidak sembarangan.

Mereka adalah orang-orang yang sudah dipilih. Para pemain diharuskan bertelanjang dada mengenakan atribut serba merah, termasuk pada celana dan ikat kepala. Permainan bambu gila kini dimainkan dalam upacara adat seperti pernikahan. Tentang juga dalam acara besar yang ada di Maluku.

Permainan bambu gila merupakan salah satu kekayaan tradisi yang dimiliki nusantara. Karena tradisi ini bukan hanya dimainkan oleh masyarakat Maluku saja, kini sudah mulai merambah ke daerah lain.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *