Kategori
Society

Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah – Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.

Sampah adalah permasalahan yang sangat serius yang belum teratasi hingga sekarang. Sekitar 6 persen dari gas rumah kaca disumbang oleh sampah. Selain itu, sampah berdampak pada keanekaragaman hayati, menyebabkan polusi, dan kematian satwa.

Ada beberapa narasumber login idn poker via website yang dihadirkan, di antaranya adalah Imanuddin Utoro, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI; Een Irawan Putra, Pegiat Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Naturalisasi Ciliwung Kota Bogor; dan Ridho Malik, Head of Strategic Services Waste4Change. Simak pembahasan lengkapnya di sini!

1. Hanya 7,5 persen sampah yang didaur ulang
zibik ir4mclggzeu unsplash cc56788fd7d32160b906eeccfd89395b - Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Ridho memaparkan fakta yang mengejutkan tentang sampah. Dari 100 persen, hanya 7,5 persen yang di-recycle atau didaur ulang. 70 persen langsung di-drop ke tempat pembuangan akhir (TPA), sedangkan sisanya ada yang dibakar, dibuang ke sungai, dan tercecer di mana-mana.

Belum lagi, dampak sampah bagi ekosistem. Walau hanya berkontribusi 6 persen pada gas rumah kaca, sampah tetap memiliki andil pada pemanasan global, Imanuddin menegaskan.

Tanpa disadari, ini menghasilkan efek domino. Pemanasan global yang tidak terkendali bisa menaikkan permukaan air laut dan meningkatkan suhu bumi. Lalu, suhu yang kian meningkat berpotensi menyebabkan kebakaran hutan.

Tidak hanya itu saja, keanekaragaman hayati pun ikut terancam. Sampah yang dibuang ke sungai akan bermuara ke laut, lalu menyebabkan kematian satwa. Tak heran, sering ditemukan sampah plastik di perut paus, penyu, hingga burung.

2. Pengolahan sampah perlu melibatkan masyarakat, mengapa?
hermes rivera r1 iba4oxii unsplash 16f748906470fcbf8951fa377f5d4998 - Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Di beberapa negara maju, dikenal istilah polluter pays principle. Artinya, pencemar (baik individu atau korporasi) harus bertanggung jawab untuk membayar kerusakan yang terjadi pada lingkungan.

Sementara di Indonesia, pemerintah justru bertugas sebagai operator, yakni yang menjalankan, mengangkut, dan mengelola sampah. Menurut Ridho, yang bertugas sebagai operator harusnya adalah masyarakat itu sendiri dan pihak swasta, sedangkan pemerintah sebagai regulator atau pembuat regulasi.

Berdasarkan survei yang disampaikan oleh Imanuddin, sebenarnya mayoritas masyarakat memiliki pengetahuan yang baik tentang sampah. Sebanyak 69,70 persen setuju bahwa sampah yang mudah membusuk lebih baik dijadikan kompos dan tidak boleh dibuang ke sungai.

69,44 persen sepakat bahwa setiap rumah tangga harus menyediakan tempat sampah sendiri untuk memisahkan sampah. Selain itu, 61,62 persen responden setuju bahwa sampah berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Masyarakat kita tahu bagaimana (cara) mengelola sampah. Tetapi, kalau kita lihat bagaimana mereka implementasi, ternyata jomplang. Ternyata mereka banyak yang tidak punya TPS, tidak punya tempat sampah, sampahnya juga dicampur. Prakteknya beda dengan pengetahuan yang mereka miliki,” ujar Imanuddin.

3. Bagaimana agar masyarakat bisa mengolah sampah secara mandiri?
pexels gustavo fring 5622462 c79e73b3276b370eab228814e853de56 - Pentingnya Melibatkan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Imanuddin menekankan bahwa jika masyarakat di berikan pengetahuan dan infrastruktur yang memadai, mereka sanggup mengelola sampah sendiri. Menurutnya, problem utama dalam pengelolaan sampah adalah tidak ada sistem yang utuh.

Pada saat workshop di awal perencanaan, kami tanya, mereka (mengaku) bisa memilah sampah. Tapi mereka mengatakan bahwa buat apa memilah kalau di campur lagi saat di angkut tukang sampah?” Imanuddin melanjutkan.

Agar terarah, masyarakat perlu di dampingi dan berkolaborasi dengan komunitas lokal, misalnya karang taruna. Sampah plastik yang masih bernilai bisa di olah dan dijual kembali untuk mendanai kegiatan mereka. Sementara, sampah organik bisa di olah lewat composting (kompos).

Cara lain yang bisa di lakukan adalah budidaya black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Larva lalat ini sanggup mengonsumsi sampah organik tiga kali berat tubuhnya dalam 24 jam!

Dengan infrastruktur berupa satu rumah BSF, kapasitasnya mencapai 3 ton sampah organik per bulan. Imanuddin mengatakan, larva BSF rakus terhadap makanan dan cukup efektif untuk mengurangi sampah organik yang sudah di pilah.