Kategori
Bisnis

Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik

Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik

Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik – Bisnis atau niaga adalah kegiatan memperjualbelikan barang atau jasa dengan tujuan memperoleh laba. Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba.

Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Pandemik COVID-19 musuh bersama, termasuk bagi para pelaku dunia usaha. Meski hampir semua sektor ikut terpukul, ternyata ada juga Sbobet Deposit Pulsa 10000 pengusaha yang masih meraup untung di tengah pandemik ini.

Dengan sejumlah perubahan gaya hidup dan aktivitas masyarakat di saat pandemik, sejumlah jenis bisnis kecipratan untung. Mereka yang punya bisnis tanaman, alat berkebun, kuliner, alat kesehatan hingga alat olahraga, adalah sebagian dari mereka yang beruntung.

1. Pedagang sepeda di Tangerang panen cuan karena tren gowes

Seorang pedagang sepeda di Kota Tangerang, Banten, ini adalah salah satu yang panen cuan di masa pandemik. Sejak bersepeda menjadi tren, pemasukan para pedagang sepeda pun melesat naik. Banyak orang ingin menjaga kebugaran sekaligus mengatasi kebosanan lewat “gowes”.

Helen mengisahkan, kondisi penjualan yang baik ini tidak terjadi sejak awal pandemik. Di bulan-bulan awal, penjualan justru merosot tajam. Dalam sehari, dia pernah menjual hanya tiga sepeda saja.

Kini, kondisinya berbalik setelah gowes menjadi aktivitas yang hype. Setiap harinya, rata-rata 17 sepeda laku terjual. Peningkatannya hampir dua kali lipat dari jumlah penjualan pada hari-hari biasanya sebelum masa pandemik.

2. Dulu event organizer, kini banting setir jualan sayur online

Henny Pandiangan (42) putar otak sejak bisnisnya terhantam pandemik. Dia selama ini menjalani bisnis event organizer di Medan, Sumatera Utara. Seperti pengusaha EO lainnya, usaha miliknya benar-benar terpuruk karena penyelenggaraan event besar dilarang pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19.

Akhirnya, banyak event yang di-reschedule, bahkan dibatalkan.

Kini booth-booth acara, printing, dan sejumlah dekorasi wedding teronggok saja di kantor Henny.

Di tengah keterpurukan itu, Henny pun putar otak untuk bisa bertahan tanpa merumahkan para tim kreatifnya. Dia akhirnya memutuskan banting setir merambah bidang lain. Berjualan sayur secara daring, menjadi pilihan Henny.

Kini, bisnis jualan sayur yang dinamakan Huta Fresh Market itu, sudah menggaet 382 pelanggan. Setiap harinya ada sekitar 40 pelanggan tetap yang melakukan pembelian.

Meski bisa sukses mengakali bisnisnya, Henny tetap berharap pandemik ini segera berakhir agar dia dan timnya bisa kembali menggeluti bisnis EO agency.

3. Clothing Bigboylooksgood yang jeli melihat peluang, merambah produksi masker kain
94245269 823245194827314 2010737814808407611 n b6ad273994c29f06499deab7c59eb3fe - Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik

Jeli melihat peluang di tengah pandemik COVID-19 juga membuat Denny Nugraha (41) mampu bertahan bahkan mengembangkan usahanya. Denny selama ini dikenal dengan Bigboylooksgood, clothing big size khusus cowok yang sudah punya pelanggan setia di Jakarta dan Bali.

Bisnis fashion itu sudah digelutinya sejak 2012. Berangkat dari melihat peluang pasar bagi konsumen yang punya ukuran baju di atas Xl atau 2L yang belum banyak digeluti brand lokal, Denny pun merintis Bigboylooksgood.

Pemikiran tersebut kemudian mengantarnya memulai bisnis fashion big size dari ukuran L sampai XL American Size. Saran yang disampaikan oleh konsumen-konsumennya saat itu membuatnya menciptakan ukuran lain seperti 2L, 3L, 4L dan 5L.

Local brand yang berlokasi di Seminyak village ini harganya pun terjangkau sekitar Rp328 ribu hingga Rp428 ribu. Daur hidup koleksinya hanya 3 minggu saja, setelah itu habis barangnya.

Denny mengungkapkan bahwa pandemik ini menjadi tantangan tersendiri baginya agar bisa menyiasati income. Dia pun memutuskan untuk merambah produk lain yang dibutuhkan dalam kondisi saat ini. Tak hanya produksi baju, kini dia pun membuat masker.

Masker yang merek produksi pun memanfaatkan bahan kain-kain dari membuat baju. Hasilnya, masker matching dengan baju buatannya.

4. Bisnis empon-empon diburu karena khasiatnya bagi imun tubuh

Bisnis lain yang meroket di tengah pandemik adalah produk herbal, termasuk empon-empon. Jenis herbal satu ini begitu diminati orang karena diyakini bisa meningkatkan imun tubuh, utamanya di tengah pandemik.

Salah satu pengusaha di sektor ini adalah Supriyatin. Saat virus corona merebak pertama kali di Indonesia, warga Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu mengaku seperti ketiban durian runtuh. Betapa tidak, sirup jahe gula aren yang sudah ia produksi sejak enam tahun terakhir, mendadak booming!

Di bulan pertama hingga bulan ketiga masa pandemik, Supriyatin  kebanjiran orderan. Pri, begitu ia akrab disapa, sampai-sampai kewalahan menerima banyaknya pesanan dari para pelanggan.

5. Gerakan #dirumahaja membuat mebel pun menjadi bisnis menggiurkan
snapshot 267 4e3a026815787a63057d9fdfbac7fc93 - Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik

Berdiam diri selama pandemik, membuat orang menjadi asyik mengotak-atik dekorasi rumah. Bisnis mebel pun kebanjiran orderan. Salah satu yang merasakan hal itu adalah desainer Interior Mebelux, Fitriana dari Kota Solo, Jawa Tengah. Fitri mengaku penjualan mebelnya mengalami peningkatan hingga 20 persen selama masa pandemik dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

6. Penjual ikan cupang di Lampung ini cuan hingga bisa bangun rumah
antarafoto budidaya ikan cupang hias 060820 adb 5 357e830f289863ff673ba1b218d885ae - Berikut Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Masa Pandemik

Mengulik hobi, menjadi salah satu “obat” kejenuhan selama masa pandemik yang membuat sebagian besar orang berdiam diri di rumah. Salah satu hobi yang tren kembali adalah memelihara ikan cupang.

Popularitas cupang dan tanaman hias membawa untung yang melimpah bagi para penjualnya. Aidan, misalnya, meraup omzet jutaan rupiah dari usahanya berjualan cupang. Penjual asal Lampung ini memilih jenis cupang koi multicolor untuk dia tawarkan melalui media sosial.

Aidan sudah melakoni bisnis cupang ini sejak April 2019. Awalnya dia adalah penjual ikan cupang reseller. Lama kelamaan, dia mulai belajar sendiri untuk beternak. Saat ini, lahan kolamnya sudah cukup luas dan dia berencana untuk memperluas lagi.

Sebelum pandemik, Aidan sempat memasarkan ikannya ke luar negeri. Kini, dengan banyaknya negara yang memberlakukan lockdown, akhirnya dia hanya fokus memasarkan cupang secara lokal. Itu pun tetap meraup untung yang besar.

Menurutnya dalam waktu tiga bulan ikan sudah bisa dipasarkan tapi bergantung pada jenis ikannya. Karena ikan koi multicolor ini membutuhkan mutasi untuk memecahkan warna pada kulit ikan.

Bisnis berjualan cupang ini juga menjadi penyelamat bagi Muhammad Iqbal. Pria yang berprofesi sebagai freelance fotografer di salah satu kantor swasta ini, terpaksa banting setir untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Menjual ikan cupang dirasakannya merupakan jalan yang tepat untuk kondisi saat ini.

7. Bisnis tanaman hias keuntungannya kian gurih

Selain ikan cupang, fenomena unik yang kembali muncul di tengah pandemik ini adalah  tanaman hias. Selain karena faktor kebutuhan orang mengulik hobi saat pandemik, koleksi tanaman hias memang telah memiliki pangsa pasar tersendiri sejak lama. Banyak orang senang mengoleksi tanaman hias dan berburu tanaman dengan warna dan bentuk yang menarik.

Salah seorang warga Kota Bandung yang kini banyak mendapatkan untung dari berbisnis tanaman hias itu yakni Nisa Nurjanah. Perempuan yang berprofesi sebagai karyawan di salah satu galeri seni di Kota Bandung ini mengaku banyak mendapatkan untung dari usaha tanaman hias.

Hanya bermodalkan suka dengan tanaman hias, ia memulai menanam beberapa potong tanaman pot yang kemudian dirawat di rumah pribadinya. Kondisi pandemik pun akhirnya membuat Nisa banyak memiliki waktu berdiam diri di rumah. Sehingga, hal ini membuatnya terus merawat tanaman-tanamannya dan kemudian berkembang hingga akhirnya berjualan.

Jenis tanaman yang ia jual kebanyakan jenis monstera variegata alias janda bolong. Harga satu tanaman itu ia jual dengan harga Rp150 ribu. Menurutnya, harga tersebut merupakan harga yang sudah naik dari sebelumnya yang hanya Rp50 ribu. Ada juga tanaman-tanaman koleksi yang harganya bisa di atas Rp3 juta.

8. Millennial bercocok tanam? Kenapa tidak!

Tidak banyak millennial yang terjun ke dunia pertanian, padahal prospek bisnisnya cukup menjanjikan asalkan mengetahui kunci suksesnya. Di tengah pandemik, produk sayur mayur organik diburu karena dipercaya menyehatkan tubuh, dan juga mempunyai khasiat serta menjaga imunitas tubuh.

Celah inilah yang dilirik Shofyan Adi Cahyono, millennial asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dia merintis Usaha Sayuran Organik Merbabu (SOM) sejak 2014 di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan.